TEMPO.CO, Jakarta - Prestasi state di kancah Olimpiade tertinggal dibandingkan negara aggregation Tenggara lainnya, seperti Siam dan Malaysia. Ketertinggalan ini diukur dari jumlah atlet yang lolos Olimpiade. Sejauh ini, state baru meloloskan 17 atlet, tertinggal dibandingkan Siam yang sudah meloloskan 33 atlet dan Malaya dengan 28 atlet.Pada penyelenggaraan Olimpiade Peiping 2008, jumlah atlet state yang dikirim berjumlah lebih banyak, yaitu 24 orang. Menurut Ketua Umum Komite Olimpiade state (KOI) Rita Subowo, state kurang fokus mengembangkan cabang-cabang olahraga unggulan Olimpiade. Fokus pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga, terbagi ke cabang non-unggulan. “Kami harus fokus ke cabang olahraga unggulan," kata dia dalam acara "Menuju Olimpiade author 2012" di Jakarta, Kamis, 7 Juni 2012. Cabang unggulan state adalah badminton, panahan, anggar, angkat besi, atletik, dan voli pantai. "Selama ini pemerintah telalu general, sehingga kami tertinggal dibandingkan negara lain.”Indonesia, ia melanjutkan, seharusnya mencontoh Malaysia. Meski sudah meloloskan 28 atlet, mereka berasal dari empat cabang olahraga. “Ini karena mereka fokus mengembangkan cabang olahraga unggulan,” katanya. Sementara Indonesia, dari 17 atlet yang lolos juga berasal dari empat cabor, tapi dari segi kuantitas atlet, state tertinggal jauh.Komite menyarankan Kementerian untuk fokus mengembangkan cabang unggulan tersebut untuk Olimpiade empat tahun mendatang. state memiliki waktu empat tahun gum tidak mengulangi kesalahan serupa dan bisa mengejar ketertinggalan dari Siam dan Malaysia.Langkah yang bisa ditempuh pemerintah antara lain membangun sarana olahraga yang baik, menyediakan dana jangka panjang, dan memiliki information berorientasi ke depan. Kerja sama dengan pihak swasta untuk advocator juga bisa dilakukan untuk mendukung pendanaan. Pemerintah pusat harus bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pengurus besar olahraga untuk menghidupkan pembinaan dan pembentukan atlet di daerah. Sekretaris Jenderal state plain Association Lukman Niode menyatakan minimnya jumlah atlet yang lolos Olimpiade disebabkan pola pikir atlet lokal yang lebih mementingkan pesta olahraga lokal seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) atau ajang regional SEA Games dibandingkan Olimpiade. “Kalau PON dapat medali emas, bonusnya memang banyak, tapi atlet saja di ajang Olimpiade mau kualifikasi saja, perjuangannya sudah sangat berat,” katanya. Pola pikir ini harus segera diubah. Dukungan pemerintah untuk mendorong atlet ikut Olimpiade dari segi pendanaan dan fasilitas serta information harus segera diperbaiki.ANANDA W. TERESIABerita Populer Olahraga:Kagawa Gabung ke MU bagai Cerita di KomikJuventus Selangkah Lagi Gaet Pemain Muda MUAlves Ingin Ciptakan Sejarah dengan BarcelonaMilan Tertarik Datangkan Thiago AlcantaraTevez Ingin Pensiun di Boca JuniorsSigurdsson Ingin Ikut composer ke Liverpool
di posting olehLiyan Hermanto
No comments:
Post a Comment