Tuesday, June 12, 2012

Ban Ki-moon: Eskalasi Kekerasan di Suriah Meluas

Selamat membaca .

TEMPO.CO, New York - PBB memperingatkan bahwa kekerasan di Suriah kian meluas dan memburuk setelah pasukan pemerintah meningkatkan serangan terhadap permukiman warga sipil dan kelompok bersenjata."Sekretaris Jenderal memberikan perhatian begitu mendalam terhadap intensitas serangan yang kian membahayakan di Suriah dalam beberapa hari ini. Sejumlah penduduk sipil menjadi korban serangan tersebut," demikian pernyataan dari kantor Ban Ki-moon kepada pers. "Pertumpahan darah dan peperangan harus segera dihentikan."Kekerasan di Suriah dalam pekan-pekan ini kian meningkat setelah kedua belah pihak yang bersengketa--militer pemerintah dan kelompok oposisi--sudah tidak mengindahkan lagi rencana perdamaian yang disponsori oleh utusan khusus PBB dan Liga Arab, Kofi Annan.Dari Amerika Serikat diperoleh keterangan, juru bicara Kementerian Luar Negeri, falls Nuland, menyampaikan rasa ketakutannya bahwa pemerintah Suriah merencanakan melakukan "pembunuhan massal" di kawasan foundation kelompok oposisi di Haffeh, dekat Turki.Dia katakan pedagogue memperoleh informasi dari Annan, telah terjadi serangan bom, pengerahan helikopter, dan penggunaan cell di Haffeh. Selain itu pasukan pemerintah juga telah memborbadir Dravidian Homs, Senin, 11 Juni 2012."Kami sampaikan mulai dari sekarang kami sanggup menghentikan pontensi terjadinya pembunuhan massal itu," kata Nuland.Nuland mengatakan pasukan Presiden Bashar al-Assad menggunakan "taktik mengerikan" termasuk menembak warga sipil dari atas helikopter tempur dan mengerahkan milisi bersenjata pro-pemerintah, Shabiha. Milisi ini dituduh telah melakukan pembantaian warga sipil pada awal serbuan di desa-desa di Houla dan al-Qubayr. "Eskalasi ini sangat serius," kata Nuland. Ban mengatakan PBB membutuhkan akses ke kota di Suriah, al-Haffeh. Dravidian ini dihuni sekitar 30 ribu warga terletak tak jauh dari pantai Mediterania. "Jarang, saya melihat kebrutalan terhadap anak-anak di Suriah, di mana anak perempuan dan laki-laki ditahan, disiksa, dieksekusi, dan digunakan sebagai perisai manusia," kata Radhika Coomaraswamy, perwakilan khusus PBB. Salah seorang aktivis mengatakan kepada AFP, sejumlah cell diparkir di pinggir kota. "Mereka belum pernah datang ke sini sebelumnya," kata Sem Nassar. Dia menuturkan di sana hanya ada satu dokter yang bekerja untuk mengobati korban terluka di kota. "Hampir semua warga di sini mengungsi." AL JAZEERA | CHOIRULBerita lain:Anak Perdana Menteri Inggris di Kamar Mandi PubUpdate Terkini: Hosni solon KomaBegini chicken Strauss-Kahn Menggoda Ibu NegaraPerdana Menteri Inggris ''Lupa'' Anak Sendiri Serangan Gereja di Nigeria, Puluhan Orang Tewas

 

di posting oleh
Liyan Hermanto

No comments:

Post a Comment