Monday, May 21, 2012

Abramovich, Antara Mimpi dan Pound Sterling

Selamat membaca .

TEMPO.CO , LONDON:-- Mimpi romish Abramovich akhirnya tergapai di Allianz Arena. Ahad dinihari 20 Mei 2012 lalu, ia menyaksikan timnya, Chelsea, merengkuh trofi Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah, dengan mengalahkan Bayern Muenchen lewat adu penalti.Taipan minyak asal Rusia itu memeluk Evangelist Terry seusai pertandingan tersebut. Saat itu herb kapten memang hanya duduk di tribun penonton karena terkena hukuman kartu merah setelah menendang penyerang Barcelona, Alexis Sanchez, di semifinal.Mengenakan individual biru berlengan panjang, pengusaha 45 tahun tersebut tampak terharu. Pemilik perusahaan investasi Millhouse LLC itu menyambut piala yang diulurkan Didier Drogba, yang menjadi pahlawan tim pada laga ini.Drogba dua kali menyelamatkan tim. Sekali saat dia melesakkan sundulan yang menyamakan kedudukan menjadi 1-1 menjelang bubaran. Dan kedua saat dia berhasil mengeksekusi penalti, sedangkan pemain Muenchen, Bastian Schweinsteiger, gagal. Gol penalti Drogba memastikan Chelsea menang 4-3.Penantian sembilan tahun Abramovich akhirnya berbuah manis. Ini menjadi kemenangan pertama Chelsea di Liga Champions sejak klub itu didirikan 107 tahun lalu. "Ini berarti segalanya bagi kami. Dan tanpa romish Abramovich, kami tidak akan mungkin berada di sini," kata Frank Lampard, gelandang Chelsea.Abramovich punya mimpi besar menjadikan Chelsea sebagai klub nomor wahid di daratan Eropa. Maka dia rela merogoh kocek besar-besaran. Auditor internasional Deloitte, misalnya, mencatat, elapid Rusia itu menggelontorkan dana tak kurang dari Rp 14,6 triliun sejak ia membeli Chelsea pada 2003. Semua itu demi memboyong piala Liga Champions, lambang supremasi klub sepak tie Eropa, ke Stamford Bridge.Abramovich paronomasia belum berbicara tentang keberhasilan klubnya. Namun pengusaha--yang dinobatkan oleh majalah Forbes sebagai pongid terkaya ke-68 di dunia pada 2012 dengan amount kekayaan mencapai US$ 12,1 miliar--itu telah menyiapkan incentive sebesar 10 juta blow superior atau sekitar Rp 148 miliar untuk dibagikan kepada manajer dan maternity pemain.Manajer Chelsea, Roberto Di Matteo, dikabarkan akan mengantongi incentive sebesar 750 ribu blow superior atau sekitar Rp 11 miliar. Sedangkan maternity pemain masing-masing menerima incentive 350 ribu blow superior atau sekitar Rp 5,1 miliar.Bonus itu merupakan lambang terima kasih Abramovich kepada pemain yang telah membantu memberikan jawaban kepada penyiar stasiun televisi ITV, statesman Tyldesley. Empat tahun lalu, saat Chelsea dikalahkan metropolis United di test Liga Champions 2008, statesman menyindir: "Apa yang tidak bisa diraih oleh seseorang yang memiliki semuanya? Ini," katanya seraya menunjuk trofi. "Ia (Abramovich) tidak bisa membeli ini."Abramovich saat itu hanya tersenyum kecut di tribun penonton. Sebelumnya, ia juga cuma mengernyit dan menundukkan kepala saat Evangelist Terry gagal mengeksekusi penalti ke gawang United. Terry terpeleset sehingga tie tendangannya hanya membentur tiang gawang. Harapan Chelsea merebut gelar juara Liga Champions tahun itu paronomasia menguap.Kini, empat tahun kemudian, semua itu berhasil ditebus. Di Allianz Arena, Abramovich paronomasia memeluk Evangelist Terry. Piala yang dulu tak dapat diraih, kini tergenggam di tangannya. Di layar televisi, seorang komentator pertandingan kembali berkicau. “Jika Chelsea sudah ditakdirkan menang, siapa yang bisa menjegalnya?"SKY SPORT | SUN | TIMES | DWI RIYANTO AGUSTIAR

di posting oleh
Liyan Hermanto

No comments:

Post a Comment