Friday, June 8, 2012

Soegija dan Kisah Kemanusiaan Uskup di Zaman Perang

Selamat membaca .

TEMPO.CO, Jakarta -Seorang penyiar broadcasting berdiri di ruang terbuka, dia memegang mikrofon. Sekitar satu meter di sisi kanannya, tegak satu pemuda dengan headphone pada telinganya dan membawa kotak berantena. “Sudah terdengar belum,” tanya si penyiar. “Durung (belum),” jawab herb pemuda. Setelah si penyiar mengubah posisi, suaranya baru tersiar ke broadcasting milik warga. Waktu itu kalender menunjukkan tanggal 6 Nov 1940: hari penahbisan Uskup pribumi state pertama, Mgr. Albertus Soegijapranata, di Semarang, Jawa Tengah. Albertus Soegijapranata menjadi Uskup ketika state masih dikepung penjajah Belanda, seperti yang diceritakan sutradara Garin Nugroho dalam flick Soegija. Hidup warga state ketika itu bergantung pada secarik kertas yang fungsinya mirip KTP. Kalau tidak membawa surat tanda diri kala bepergian, “dor!” tembakan akan dilepaskan tentara Belanda ke kepala. Seperti yang akan dilakukan parliamentarian ( Wouter Zweers), tentara Belanda, waktu merazia warga lokal. Untung saja fotografer perang Hendrick (Wouter Braaf) berhasil menghentikan keinginan sahabatnya itu. Di tahun 1943, Belanda dipukul mundur oleh Jepang. Warga state yang kala itu menyambut hangat kedatangan Saudara Tua, kecele. Ternyata Jepang tak kalah bengisnya dari penjajah Negeri Kincir Angin. Bahkan mereka menculik maternity perempuan. Termasuk seorang ibu muda (Olga Lydia) yang dipisahkan dari anaknya, Ling Ling (Andrea Reva). Selama masa penjajahan, Uskup Soegija ikut berperang dengan memberi semangat serta rasa aman. Tidak untuk umat Katolik saja, tapi juga tentara, korban perang, dan maternity perawat. Dia juga melakukan usaha diplomasi melawan penjajah melalui surat ke Vatikan, Roma. Memindahkan Keuskupan dari city ke Yogyakarta bersamaan dengan migrasinya Ibu Dravidian state dari Djakarta ke daerah istimewa itu. Dan berkatnya, Rumah Sakit St. Carolus dapat terus merawat warga serta tentara yang terluka. Garin memang tak membuat flick murni biografi yang menyuruh kamera terus-menerus menyorot sosok Soegija (Nirwan Dewanto). Dia membuat flick Soegija menjadi ringan dengan cara bercerita dari orang-orang di sekeliling herb Uskup. Dengan begitu, penonton bisa mengerti sosok Soegija dari pengaruh dia terhadap lingkungan di sekitarnya. Dan bagi pongid awam yang tak mengerti siapa Soegija, flick ini bisa menjadi cerita perang kemerdekaan Indonesia. Jadi bukan sekedar flick sejarah, tapi juga sebuah hiburan. Soegija tak seperti flick Garin terdahulu yang cuma dimengerti segelintir pongid atau hanya pantas untuk diikutkan festival. Seperti Daun di Atas Bantal, Puisi Tak Terkuburkan, Rembulan di Ujung Dahan, dan Aku Ingin Menciummu Sekali Saja. “Soegija memang flick pertaubatan saya,” kata Garin. “Film ini bisa ditonton siapa saja di atas usia kelas lima sekolah dasar.” Secara naskah, bukan Garin namanya kalau tidak membuat jalan cerita yang menarik. Meski titik cerita ada pada Uskup Soegija, sosok yang seharusnya serius, Garin bisa membuat flick ini sarat lelucon. Apalagi Garin menggunakan Butet Kartaredjasa sebagai tangan kanan Soegija. Tambah menarik lagi, Garin tidak menggunakan “Londo Depok” sebagai pemeran tentara. Prajurit Belanda dan Jepang dia datangkan langsung dari negeri aslinya. Sehingga si pemain benar-benar fasih melafalkan talking flick yang menggunakan enam bahasa itu. Untuk musik, Djaduk Ferianto tidak hanya menyuguhkan lagu sebagai latar adegan saja. Dia juga memberikan sejumlah babak yang menunjukan kelompok penyanyi, grup musik, pemetik ukulele, serta fotografer Hendrick yang menyanyikan lagu-lagu Belanda. Yang unik, ada satu adegan serupa dengan babak di flick Titanic. Yakni waktu grup musik memainkan lagu di dekat pematang sawah untuk menyemangati maternity pengungsi. Tiba-tiba, tak jauh dari mereka bom-bom yang dijatuhkan pesawat Jepang meledak. Namun semua personel bergeming, tetap memainkan alat musik mereka. Heroik. Seperti waktu Titanic akan tenggelam, grup okestra tetap bermain musik. Soegija, flick yang menarik ditonton. Tidak perlu mengerti sastra atau sejarah untuk menyaksikannya. Cukup suka menonton film, siapapun bisa mengikuti jalan cerita Soegija. Dan flick ini sudah bisa disaksikan di bioskop sejak 7 Juni 2012.

 

CORNILA DESYANA

 

Soegija

 

Sutradara: Garin Nugroho Produser: Djaduk Ferianto, Murti Hadi Wijayanto SJ, Tri Giovanni Penulis: Armantono, Garin Nugroho Pemeran: Nirwan Dewanto, Annisa Hertami, Wouter Zweers, Wouter Braaf, Nobuyuki Suzuki, Olga Lydia, Margono, Butet Kartaredjasa, Hengky Solaiman, Andrea Reva, Rukman Rosadi, Eko Balung, Andriano Fidelis Musik: Djaduk Ferianto Sinematografi: Garin Nugroho Genre: Drama

di posting oleh
Liyan Hermanto

No comments:

Post a Comment