Tuesday, May 22, 2012

Fitch Pangkas Rating Jepang, Dolar Kembali Berjaya

Selamat membaca .

TEMPO.CO, New York - Dolar Amerika Serikat (AS) naik ke take tertingginya terhadap enam mata uang utama dunia sejak Januari lalu didukung oleh terdepresiasianya yearning setelah lembaga pemeringkat internasional, Fitch, memangkas peringkat utang Jepang menjadi A+ dari take sebelumnya berada di posisi AA. Mata uang tunggal Uni Eropa, euro, kembali melemah terhadap dolar AS setelah mantan Perdana Menteri Yunani mengatakan bahwa dampak ekonomi dari bangsa Mediterania keluar dari structure Eropa akan sangat tinggi, menurut Dow designer Newswires. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang competition utamanya semalam ditutup naik 0,416 poin (0,51 persen) menjadi 81,648. Di pasar aggregation pagi ini dolar AS kembali naik 0,257 poin (0,31 persen) ke 81,905, bahkan sempat menyentuh take tertingginya di 82,005. Terhadap yen, dolar naik menjadi 79,96 dari posisi sebelumnya di 79,3, Senin lalu. Terhadap euro, yearning juga melemah 0,03 persen menjadi 101,38. Pengumuman Fitch setelah pasar aggregation tutup kemarin sehari sebelum slope sentral Jepang menentukan kebijakan suku bunganya membuat dolar AS kembali digdaya. “Dampak penurunan peringkat utang Jepang terhadap pelemahan yearning hanya sesaat,” ujar cristal Cole, Kepala Strategi G-10 FX dari corpuscle Capital Markets. Karena sebagian besar obligasi pemerintah hampir dikuasai oleh investor domestik, sehingga penurunan judgement Jepang tidak banyak berpengaruh terhadap yen. “Dolar kembali menguat kali ini terhadap hampir semua mata uang dunia dan bursa saham orbicular seiring dengan menguatnya imbal hasil obligasi AS,” kata Eric Viloria, grownup strategi pasar uang dari Forex.com. Adapun euro kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar AS karena maternity investor menurunkan ekspektasinya terhadap aksi koordinasi atas apa yang akan dihasilkan dari pertemuan maternity pemimpin Uni Eropa yang berlangsung hari ini. “Suka atau tidak suka, Kanselir Jerman akan membahas peningkatkan efektivitas obligasi euro serta asuransi deposito kawasan,” kata Kathy Lien, direktur riset mata uang dari GFT. “Seperti pertemuan G-8 lalu, jangan terlalu berharap dari setiap keputusan kebijakan yang akan dibuat karena Jerman dan negara Uni Eropa lainnya tidak ingin menanggung risiko negara yang tidak bisa mengendalikan regulasi slope dan keuangan mereka,” tuturnya. Yang pasti dunia akan selalu mendengar setiap petunjuk untuk mengatasi masalah Yunani. Euro pada perdagangan semalam kembali melemah ke US$ 1,2688 dari penutupan Senin lalu di US$ 1,2811. Mata uang tunggal uni Eropa ditutup di bawah take US$ 1,27 untuk pertama kalinya sejak Januari lalu. Pound superior juga melemah ke US$ 1,5754 dibandingkan penutupan Senin di US$ 1,5829. MARKETWATCH / VIVA B. KUSNANDAR

di posting oleh
Liyan Hermanto

No comments:

Post a Comment